← Semua insights

Kenapa Kami Berhenti Fokus pada Harga dan Mulai Fokus pada Cara Bayar

Harga murah bisa jadi mahal kalau cash flow perusahaan tertekan di awal. Ini pelajaran dari pengalaman purchasing di SINWAZ yang mengubah cara kami melihat vendor.

Strategi term of payment dan cash flow dalam purchasing bisnis

Ada momen di mana kami sadar: angka di invoice bukan satu-satunya angka yang penting dalam keputusan pembelian.

Ketika seseorang dengan latar belakang Manajemen Keuangan masuk ke dunia Purchasing, yang terjadi pertama kali bukan culture shock tentang cara kerja operasional, tapi tentang cara berpikir.

Di kuliah, purchasing sering digambarkan sebagai: cari vendor, bandingkan harga, pilih yang paling murah. Di lapangan, khususnya di SINWAZ, yang beroperasi dengan dua business unit dan ritme bisnis yang cepat, realitanya sangat berbeda.


Ketika Kami Mulai Bertanya Hal yang Berbeda

Saat pertama kali melakukan vendor selection untuk kebutuhan operasional Browie dan Hoster House, pertanyaan awalnya selalu: "Berapa harganya?"

Tapi seiring berjalannya waktu, pertanyaan itu bergeser menjadi: "Bagaimana skema pembayarannya?"

Bukan karena harga tidak penting, tapi karena kami mulai memahami bahwa harga yang tertera di invoice hanya sebagian dari biaya sesungguhnya sebuah transaksi.


Vendor Selection sebagai Manajemen Risiko

Memilih vendor bukan sekadar mencari opsi yang ada. Ini adalah tahap awal dari manajemen risiko operasional.

Vendor yang dipilih akan menentukan tiga hal sekaligus:

Arah biaya jangka menengah: apakah konsisten atau berubah-ubah tanpa pemberitahuan?

Stabilitas supply: apakah bisa diandalkan saat volume naik tiba-tiba, seperti saat ada campaign besar atau live dengan target GMV tinggi?

Tekanan pada cash flow: kapan uang harus keluar, dan apakah timing-nya bermasalah dengan siklus pemasukan perusahaan?

Di ekosistem SINWAZ yang perputarannya cepat, vendor yang tidak reliable bukan hanya masalah operasional, ia bisa mengganggu seluruh ritme kerja tim.


Pelajaran Tentang Term of Payment

Dari proses seleksi ratusan vendor, kami mendapat pelajaran yang cukup mengubah perspektif:

Harga murah bisa jadi mahal.

Kalau vendor menawarkan harga 15% lebih rendah tapi minta pembayaran di muka (COD atau DP besar), dan vendor lain menawarkan harga sedikit lebih tinggi tapi dengan Net 30 atau Net 45, mana yang lebih menguntungkan?

Jawabannya tergantung pada kondisi cash flow perusahaan saat itu. Dan di sinilah intelligence yang sesungguhnya dibutuhkan: kemampuan membaca situasi keuangan perusahaan secara menyeluruh, bukan hanya melihat satu angka di satu titik waktu.

Fleksibilitas pembayaran adalah value yang tidak terlihat di permukaan.

Term of Payment yang lebih panjang memberikan ruang strategis untuk:

Menjaga likuiditas operasional

Mengatur perputaran dana agar tidak ada titik "kering" di tengah bulan

Mengurangi tekanan pada tim finance untuk memenuhi kewajiban dalam jangka waktu sangat pendek


Cara SINWAZ Mendekati Keputusan Purchasing

Setiap keputusan pembelian yang kami ambil sekarang selalu melewati beberapa filter:

1. Dampak pada cash flow, bukan hanya harga.

Berapa total biaya termasuk timing pembayaran dan potensi biaya tersembunyi?

2. Reliabilitas vendor dalam jangka panjang.

Apakah mereka punya track record yang bisa diverifikasi? Referensi dari klien lain?

3. Fleksibilitas untuk volume yang berubah.

Bisnis live commerce bisa sangat volatile, campaign besar bisa datang tiba-tiba. Vendor yang bisa accommodate perubahan volume tanpa penalty yang besar jauh lebih valuable.

4. Kemudahan komunikasi dan eskalasi.

Ketika ada masalah (dan pasti akan ada), seberapa cepat vendor bisa merespons? Ini yang sering baru terasa penting setelah masalah muncul.


"Terkadang, cara kita membayar lebih menentukan kesehatan bisnis daripada harga yang kita bayarkan."

Kalau kamu sedang membangun fungsi purchasing di startup atau bisnis yang sedang tumbuh, mulailah memetakan cash flow perusahaanmu sebelum bernegosiasi dengan vendor. Posisi negosiasi yang kuat selalu dimulai dari pemahaman tentang kondisi internal, bukan hanya tentang pasar.